Jumat, 30 Juli 2010

DESAIN KURIKULUM

DESAIN KURIKULUM

A. Pengertian Desain Kurikulum

1. Menurut Longstreet (1993)
Desain kurikulum ini merupakan desain kurikulum yang berpusat pada pengetahuan (the knowledge centered design) yang dirancang berdasarkan struktur disiplin ilmu, oleh karena itu model desain ini dinamakan juga model kurikulum subjek akademis yang penekanannya diarahkan untuk pengembangan itelektual siswa.


2. Menurut McNeil (1990)

Desain kurikulum ini berfungsi untuk mengembangkan proses kognitif atau pengembangan kemampuan berfikir siswa melalui latihan menggunakan gagasan dan melakukan proses penelitian ilmiah.
Dari pendapat diatas dapat disimpulan kurikulum merupakan mengembangkan proses kognitif atau pengembangan kemampuan berfikir untuk pengembangan itelektual siswa.

B. Tujuan Desain Kurikulum

Tujuan pendidikan menjadi focus dan sasaran utama semua kegiatan pendidikan,termasuk penyusunan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum, tujuan pendidikan yang masih bersifat umum, yaitu tujuan nasional atau tujuan institusional dijabarkan kepada tujuan-tujuan yang lebih khusus atau tujuan kurikuler (goal), dan kemudian dijabarkan lagi kepada tujuan-tujuan khusus atau tujuan instruluksional (objective). Tujuan umum menggambarkan nilai-nilai,
kebutuhan dan harapan dari masyarakat. Rumusan tujuan ini masih umum, relatif abstrak perlu dijabarkan dan dirumuskan dalam tujuan yang lebih khusus, lebih kongrit dan spesifik yang menggambarkan prilaku atau kecakapan khusus yaitu tujuan instruksional.
Pendidikan berpungsi membantu pengembangan pribadi siswa secara utuh, secara menyeluruh, seluruh kemampuan dan karateristik pribadi. Untuk mempermudah pemahaman dan penggambaran, para ahli mencoba, mengadakan pengelompokkan kemampuan dan karateristik tersebut kedalam domain-domain. Dalam kaitan rumusan tujuan pengajaran Bloom dan kawan-kawan, membaginya atas tiga domain, yaitu; kognitif, afektif dan psyikomotori. Domain kognitif berkenan dengan kemampuan dan kecakapan –kecakapan intelektual afektif dengan kemampuan dan penguaasaan segi-segi emosional, sikap dan nilai, sedang domain psyikomotor dengan keterampilan-keterampilan.
Setiap domain memiliki tahapan-tahapan tertentu, Bloom dkk (1964) membagi domain kognitif atas 6 tahap, mulai dari yang rendah: knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis, dan evaluation. Krsthwohl dkk (1964) membagi domain afektif atas: receiving (attending), responding, valuing, organization, characterization of a value complex, sedangkan untuk domain psikomotor, Anita Harrow (1972) membagi atas: reflex movements, basic-fundamental movements, perceptual abilities, physical abilities, skilled movements, nondiscursive communication.
Anderson dan Krathwohl ( 2001 ) mengadakan penyempurnaan tentang tahapan-tahap kognitif. Mereka menambah segi kretivitas sebagai puncak tahapan kognitif. Tahap-tahap kognitif menurut Anderson dan Karthwol selengkapnya adalah sebagai berikut: knowledge, comprehension, application, analyisis , evaluation, and creativity. Tiap lembaga pendidikan tidak selalu memiliki bobot yang sama tentang ketiga domain tersebut. Lembaga pendidikan keilmuan mungkin bobot untuk domain kognitif lebih besar, sedangkan lembaga pendidikan keterampilan bobot untuk domain psyikomotor lebih besar.

C. Isi

Isi kurikulum ini bisa berupa pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, dalil, teori), bisa juga berupa kemampuan (keterampilan, kecakapan, kompetensi), atau gabungan antara keduanya. Pada lembaga pendidikan yang bersifat keilmuan, isi kurikulum sebagian besar atau bahkan hampir seluruh pengetahuannya sedangkan pada lembaga pendidikan professional atau lembaga pelatihan sebagian besar bentuknya kemampuan. Isi kurikulum disusun atau diorganisasikan dengan cara-cara tertentu.
Ada beberapa pendekatan dalam pengorganisasian isi kurikulum:
1. Pendekatan mata pelajaran (Subject area atau Discipline approach).
Isi kurikulum tersusun dalam mata pelajaran berdasrkan disiplin ilmu, seperti: Matematika, Fisika, Biologi, Sosiologi.
2. Pendekatan fusi (fused curriculum approach)
Penyatuan dua atau lebih isi kurikulum mata pelajaran yang memiliki hubungan yag sangat dekat sehingga membentuk mata pelajaran baru, seperti: Biologi dengan Kimia menjadi Biokima atau Biogenetik; Geologi dengan Geografi, Botani, dan Archeologi menjadi Earth Science.
3. Pendekatan bidang studi (Broad fields approach)
Pendekatan bidang studi hampir sama dengan fusi, menyatu beberapa isi mata pelajaran yang mempunyai kaitan yang sangat erat, dalam bentuk unit-unit bahan ajaran yang sudah terintegrasi. Dalam studi sosial atau IPS yang mengabungkan materi Sejarah, Geografi, Ekonomi, di SD memunculkan unit-unit bahan ajaran:
transfortasi, pariwisata, lalulintas, transmigrasi, banjir. Pada jenjang pendidikan menengah dan tinggi, pendekatan bidang studi melahirkan studi-studi interdisipliner.
4. Pendekatan masalah social (Social problems approach)
Dalam bidang Humanitas digunakan pendekatan-pendekatan masalah sosial. Isi kurikulum terdiri atas sejumlah unit masalah sosial.
5. Pendekatan akuntabilitas (Accountability Approach)
Pendekatan ini banyak digunakan dalam pendidikan pelatihan. Untuk menjamin efisiensi dan efektivitas pendekatan akuntabilitas menerapkan pendekatan sistem yang disebut teknologi instruksional. Bahan ajar lebih nampak sebagai kemampuan atau kompetensi yang harus dikuasai siswa, yang disusun secara sistematis.
6. Pendekatan terpadu (Integrated Approach)
Bahan ajar disusun secara terpadu dalam tema-tema, Tema-tema tersebut dapat berupa aspek-aspek kehidupan, kegiatan, masalah, ataupun, kemapuan yang akan dikembangkan.

D. Proses

Ada 5 Tahapan Design Kurikulum
Menurut Rabilotta ada 5 tahapan sistematis yang harus dilalui untuk mendapatkan Disain Kurikulum yang sukses. Untuk memastikan Disain Kurikulum yang solid dan relevan, dalam setiap fase dari proses tersebut terdapat pertanyaan-pertanyaan kunci yang bisa diajukan untuk membantu mengumpulkan informasi yang benar.
1. Fase Pertama:
Biasanya inisiatif bermula dari seorang pemimpin senior. Adapun pernyataan awal dari kebutuhan-kebutuhan training dan cakupan proyek
pendahuluan.
• Apakah yang menjadi visi dari proyek ini?
• Siapa yang menjadi target pendengar/ peserta?
2. Fase Kedua:
Mengidentifikasi kebutuhan bisnis masa sekarang dan yang akan dating sehingga training bias didisain untuk mendukung kebutuhan-kebutua\han tersebut.
• Apakah yang menjadi tujuan bisnis utama untuk organisasi ini sekarang dan
dalam sekian tahun yang akan datang?
• Kinerja seperti apa yang akan dibutuhkan oleh para karyawan untuk dapat
merealisasikan tujuan-tujuan tersebut?
3. Fase Ketiga:
Hasilnya: Sebuah pernyataan tentang pengetahuan (knowledge),
keterampilan-keterampilan (skills) dan prilaku-prilaku (behaviors) to mencapai
visi, misi dan rencana operasi stategis organisasi. Hasil-hasil ini bisa didapat
dengan pengembangan pernyataan-pernyataan kompetensi atau praktek-praktek
terbaik oleh karyawan-karyawan yang mempunyai prestasi yang tinggi.
• Apakah hasil yang paling penting yang Anda raih dalam jabatan ini, dalam enam
bulan terakhir?
• Gambarkan bagaimana anda meraih hasil? Apakah langkah yang Anda ambil? Mengapa?
Tiga Fase awal dari Proses Disain Kurikulum memfokuskan pada pemgumpulan
informasi tentang organisasi di masa depan.
4. Fase Keempat:
Pada fase keempat dilakukan sebuah analisa tentang keterampilan yang dimiliki
karyawan saat ini.
• Bagaimana kemampuan yang dipunyai karyawan untuk mencapai kinerja dibandingkan
dengan kompetensi yang sudah ditetapkan?
• Pelatihan apakah yang ditawarkan saat ini, yang merupakan respon untuk
mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan kinerja?
Secara keseluruhan Disain Kurikulum adalah suatu proses untuk mengisi kesenjangan ini.
5. Fase kelima:
Sebuah laporan kebutuhan-kebutuhan yang dibuat dari data-data yang telah
dikumpulkan. Sebuah kurikulum pelatihan dirancang dan ditinjau untuk memastikan
disain yang sesuai target.
• Apakah kurikulum yang diajukan merupakan suatu respon yang sesuai
kebutuhan-kebutuhan kinerja/bisnis?
• Apakah cara yang paling efektif untuk mengajarkan keterampilan dan kompetensi
yang telah teridentifikasi?

E. Evaluasi

Untuk menilai kebaikan dari suatu kurikulum diadakan evalausi kurikulum suatu evaluasi yang baik dilakukan secara komprehensif, mencakup semua langkah kegiatan dan komponen kurikulum, mulai dari dokumen kurikulum, pelaksanaan, hasil yang telah dicapai, fasilitas penunjung serta para pelaksana kurikulum.
Ada beberapa model evaluasi kurikulum. Provous mengembangkan model diskrepansi (Diskrepanci model) menilai deskrepansi atau kesenjangan antara yag diharapkan dengan yang dilaksanakan. Stake mengembangkan model kontigensi-konrensi (Contigency-Congruency model). Model ini ada prinsipnya juga membandingkan yang diharapkan dengan yang dilaksanakan, tetapi selanjutnya para pelaksana kurikulum membuat rancangan untuk harapan dan pelaksanaan tersebut, sehingga kongruen dengan kegiatan belajar siswa.
Stufflebeam mengembangkan model CIPP atau Context, Input, Process dan Poduct. Evaluasi ini bersifat menyeluruh, seluruh komponen dri kurikulum dievaluasi, mulai dari Context atau tujuan dalam keterkaitannya dengan tuntutan masyarakat atau lapangan; Input atau masukan yaitu siswa sebagai subyek yang belajar, guru sebagai subyek yang mangajar, desain kurikulum sebagai rancangan pembelajaran, media dan sarana-prasana sebagai alat bantu pengajar; proses atau aktivitas siswa belajar dengan arahan, bantuan dan dorongan dari guru, product atau hasil, baik hasil yang dapat dilihat dalam jangka pendek apada akhir pendidikan atau hasil jangka panjang setelah bekerja atau belajar pada jenjang yang lebih tinggi.

F. Contoh Desain Kurikulum

Lembar Pengesahan
Tim Penyusun
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Lampiran
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Landasan Penyusunan KTSP
C. Tujuan Penyusunan KTSP
D. Prinsip Pengembangan KTSP
BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN
A. Visi
B. Misi
C. Tujuan
BAB III STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM
A. Struktur Kurikulum
B. Muatan Kurikulum
1. Mata Pelajaran
2. Muatan Lokal
3. Kegiatan Pengembangan Diri
4. Kegiatan Pembiasaan
5. Pengaturan Beban Belajar
6. Ketuntasan Belajar
7. Kriteria Kenaikan Kelas
8. Kriteria Kelulusan
BAB IV KALENDER PENDIDIKAN
BAB V PENUTUP
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Contoh Silabus ( Dokumen terpisah )
2. Contoh RPP ( Dokumen terpisah )


Daftar Pustaka

http://www.google.com/search?hl=en&q=Emosi+dan+pembelajaran&aq=f&aqi=&oq=
Ali M, dkk 2007 Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI
http://indosdm.com/5-tahap-design-kurikulum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar